Notaris Harus Jeli Pilih Klien, Kalau tidak Hukum Menanti

NOTARISNEWS (Medan) – Kehati-hatian terhadap klien memang harus jadi pegangan para notaris, kalau tidak seperti kasus Chairunnisa berujung jadi saksi persidangan.

Selaku Notaris yang berwenang untuk membuat akte autentik kasus penipuan dan penggelapan mobil mewah terdakwa Nova Zein, yang dijadikan sebagai saksi persidangan, hairunnisa tampak gugup dan salah tingkah di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (26/7) sore.

Mungkin baru pertama kali mengalami sidang pengadilan hingga saat Chairunnisa ketika dicecar majelis hakim terkait mobil yang dijual Nova Fauzia Zein alias Nova Zein tampak gugup. Nova Fauzia ZeinĀ  telah divonis selama 40 bulan. Persidangan dipimpin majelis Ferry Sormin di ruang Cakra 3 PN Medan itu mempertanyakan kepada saksi Chairunnisa selaku notaris terkait kelengkapan STNK dan BPKB mobil yang dijual Nova Fauzia Zein. “Apakah saksi sebelum membuat dan menandatangani akte autentik ada menanyakan, tentang kelengkapan STNK dan BPKB mobil yang akan dijual oleh terpidana Nova Zein,” tanya hakim.

Pertanyaan itu disikapi saksi dengan diam dan tampak gugup serta salah tingkah. Meski sempat berkilah, hakim langsung mengingatkan saksi agar tidak berbohong. “Saya memang ada menanyakannya, tapi Nova Zein hanya memberikan STNK-nya saja. Sedangkan BPKB mobil yang akan dijualnya tidak pernah ditunjukkan kepada saya. Cuma mobil dan STNK yang dibawa Nova Zein ke kantor saya,” ujar saksi terbata-bata menjawab majelis hakim. Pengakuan ini mendapat respon keras dari majelis.

Menuurut majelis seharusnya notaris paham dan menanyakannya. Sebab, notaris itu pejabat umum berwenang untuk menandatangani akta autentik. “Bagai mana ibu ini, selaku notaris,” sergah majelis hakim.

Mendengar cecaran majelis hakim, saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Rendy Tambunan langsung tertunduk, dan terdiam. Sebelumnya, tiga terdakwa masing-masing, Cece, Usman serta Pulungan juga turut dihadirkan JPU pada persidang untuk didengar kesaksiannnya. Mereka mengaku sebagai pekerja dan hanya menjalankan perintah majikannya, Nova Zein untuk mengantarkan mobil. “Semua pekerjaan atas dasar perintah dari Nova Zein, termasuk mengantarkan mobil-mobil itu kepada Pulungan dan Andika, di Jalan Gagak Hitam,” ujar Cece dan Usman yang mengaku menyesal bekerja kepada Nova Zein.

Menjawab majelis hakim, Cece menyebut, sepengetahuannya Nova Zein telah menjual sebanyak 18 unit mobil dan rata-rata harganya Rp190 juta dan seluruh kendaraan yang diantarnya itu diterima oleh Pulungan. “Sepengetahuan dan seingat saya, mobil mewah yang saya antarkan ke kantor notaris itu sebanyak 18 unit dan harga perunitnya dijual Nova Zein Rp 190 juta dan semua diterima Pulungan di kantor notaris,” sebut Cece diamini Usman yang mengaku bekerja sebagai sopir pribadi antar jemput sekolah anak Nova Zein.

Sementara, tiga terdakwa lain yang telah menghirup udara segar, yakni Jefri, Suprayudi dan seorang oknum polisi AS, ditanya majelis hakim, membenarkan keterangan tiga terdakwa Cece, Pulungan maupun Usman. Sedangkan Chairunnisa yang membuka kantor di Jalan Brigjen Katamso Medan, usai sidang ketika hendak diwancarai tak bersedia menjawab pertanyaan wartawan. “Nggak ada wawancara, saya nggak mau diwancarai,” tandasnya sambil bergegas ke luar gedung PN Medan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *